Pengindraan Jauh & Interpretasinya


BAB II.

PENGINDRAAN JAUH

Beberapa ahli berpendapat bahwa inderaja merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh data di permukaan bumi, jadi inderaja sekedar suatu teknik. Dalam perkembangannya ternyata inderaja seringkali berfungsi sebagai suatu ilmu seperti yang dikemukakan oleh Everett Dan Simonett (1976): Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu, karena terdapat suatu sistimatika tertentu untuk dapat menganalisis informasi dari permukaan bumi, ilmu ini harus dikoordinasi dengan beberapa pakar ilmu lain seperti ilmu geologi, tanah, perkotaan dan lain sebagainya.

Pendapat lain mengenai Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji. (Lillesand & Kiefer, 1994)

Penginderaan jauh dalam bahasa Inggris terjemahannya remote sensing, sedangkan di Perancis lebih dikenal dengan istilah teledetection, di Jerman disebut farnerkundung distantsionaya (Rusia), dan perception remota (Spanyol).

Meskipun masih tergolong pengetahuan yang baru, pemakaian penginderaan jauh cukup pesat. Pemakaian penginderaan jauh itu antara lain untuk memperoleh informasi yang tepat dari seluruh Indonesia yang luas. Informasi itu dipakai untuk berbagai keperluan, seperti mendeteksi sumber daya alam, daerah banjir, kebakaran hutan, dan sebaran ikan di laut. (lihat gambar 3.1)

1. Citra
Dalam penginderaan jauh di dapat masukkan data atau hasil observasi yang disebut citra. Citra dapat diartikan sebagai gambatan yang tampak dari suatu obyek yang sedang diamati, sebagai hasil liputan atau rekaman suatu alat pemantau. Sebagai contoh, memotret bunga di taman. Foto bunga yang berhasil kita buat itu merupakan citra bunga tersebut.

http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbrh44.jpg

Hasil foto secara horizontal tampak sangat berbeda dibandingkan dengan hasil pemotretan dari atas atau udara.

http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbrh45_a.jpg

3.3. Perubahan dari foto udara (a) menjadi sebuah peta

http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbrh45_b.jpg

(b) dengan skala yang tetap.

Menurut Hornby (1974) Citra adalah gambaran yang terekam oleh kamera atau alat sensor lain. Sedangkan menurut Simonett, dkk (1983) Citra adalah gambar rekaman suatu obyek (biasanya berupa gambaran pada foto) yang didapat dengan cara optik, electrooptik, optik-mekanik, atau electromekanik. Di dalam bahasa Inggris terdapat dua istilah yang berarti citra dalam bahasa Indonesia, yaitu “image” dan “imagery”, akan tetapi imagery dirasa lebih tepat penggunaannya (Sutanto, 1986). Agar dapat dimanfaatkan maka citra tersebut harus diinterprestasikan atau diterjemahkan/ ditafsirkan terlebih dahulu.

Wahana
Kendaraan yang membawa alat pemantau dinamakan wahana. Berdasarkan ketinggian peredaran wahana, tempat pemantauan atau pemotretan dari angkasa ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu:

a. Pesawat terbang rendah sampai medium (Low to medium altitude aircraft), dengan ketinggian antara 1000 meter sampai 9000 meter dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra foto (foto udara).
b. Pesawat terbang tinggi (high altitude aircraft) dengan ketinggian sekitar 18.000 meter dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkan ialah foto udara dan Multispectral Scanner Data.
c. Satelit, dengan ketinggian antara 400 km sampai 900 km dari permukaan bumi. Citra yang dihasilkan adalah citra satelit.
Tenaga untuk Penginderaan Jauh


Pengumpulan data dalam penginderaan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan sensor buatan, untuk itu diperlukan tenaga penghubung yang membawa data tentang obyek ke sensor. Data tersebut dikumpulkan dan direkam dengan 3 cara dengan variasi sebagai berikut:

a. Distribusi daya (force). Contoh: Gravitometer mengumpulkan data yang berkaitan dengan gaya tarik bumi.
b. Distribusi gelombang bunyi. Contoh: Sonar digunakan untuk mengumpulkan data gelombang suara dalam air.
c. Distribusi gelombang electromagnetik. Contoh: Camera untuk mengumpuilkan data yang berkaitan dengan pantulan sinar.

Dalam penginderaan jauh harus ada sumber tenaga yaitu matahari yang merupakan sumber utama tenaga elektromagnetik alami yang digunakan pada teknik pengambilan data obyek dalam penginderaan jauh. Penginderaan jauh dengan memanfaatkan tenaga alamiah disebut penginderaan jauh sistem pasif. Sedangkan sumber tenaga buatan digunakan dalam penginderaan jauh sistem aktif.

Tenaga ini mengenai obyek di permukaan bumi yang kemudian dipantulkan ke sensor. Ia juga dapat berupa tenaga dari obyek yang dipancarkan ke sensor. Jumlah tenaga matahari yang mencapaui bumi (radiasi) dipengaruhi oleh waktu (jam, musim), lokasi dan kondisi cuaca. Jumlah tenaga yang diterima pada siang hari lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlahnya pada pagi atau sore hari. Kedudukan matahari terhadap tempat di bumi berubah sesuai dengan perubahan musim.

Sensor atau Alat Pengindera
Sensor adalah alat yang digunakan untuk melacak, mendeteksi, dan merekam suatu obyek dalam daerah jangkauan tertentu. Tiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap bagian spektrum elektromagnetik. (Lihat tabel 3.1). Kemampuan sensor untuk merekam gambar terkecil disebut resolusi spasial. Semakin kecil obyek yang dapat direkam oleh sensor semakin baik kualitas sensor itu dan semakin baik resolusi spasial dari citra.

Tabel 3.1. JENIS SENSOR DAN SIFATNYA

SPEKTRUM DAN SISTEM SENSOR

PANJANG GELOMBANG (µm)

KEMAMPUAN MENGATASI KENDALA CUACA

SAAT PENGINDERAAN

Ultra Violet
= Optical mechanical scanner
= Image orthicon
= Kamera dengan film infra merah

TAMPAK
= Kamera konvensional
= Multispektral Scanner
= Vidicon

INFRAMERAH PANTULAN = Kamera konvensional dengan film inframerah
= Solid state detector dalam scanner
= Radiometer

INFRAMERAH THERMAL
= Solis state detector dalam Scanner dan radiometer
= Quantum detector

GELOMBANG MIKRO
= Scanner dan Radiometer Kabut/ awan
= Antena dan siecuit

RADAR
= Scanner dan Radiometer
= Antena dan Sircuit

0,01 – 0,4

0,4 – 0,7

0,7 – 1,5

3,5 – 30,0

103 – 106

8,3 x 103 1,3 x 106

Kabut Tipis

Campuran asap dan kabut

Kabut tipis, asap

Kabut tipis, asap

Kabut tipis, asap, awan hujan

Siang

Siang, kecuali bila digunakan penyinaran aktif

siang

siang – malam

siang – malam

siang – malam

Berdasarkan proses perekamannya, sensor dibedakan:

a. Sensor Fotografi
Proses perekaman ini berlangsung secara kimiawi. Tenaga elektromagnetik diterima dan direkam pada emulsi film yang bila diproses akan menghasilkan foto. Kalau pemotretan dilakukan dari pesawat udara atau wahana lainnya, fotonya disebut foto udara. Tapi bila pemotretan dilakukan dari antariksa, fotonya disebut foto orbital atau foto satelit.
b. Sensor Elektrik
Sensor ini menggunakan tenaga elektrik dalam bentuk sinyal elektrik. Alat penerima dan perekamannya berupa pita magnetik atau detektor lainnya. Sinyal elektrik yang direkam pada pita magnetik ini kemudian diproses menjadi data visual maupun menjadi data digital yang siap dikomputerkan. Pemerosesannya menjadi citra dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:

1) dengan memotret data yang direkam dengan pita magnetik yang diwujudkan secara visual pada layar monitor.
2) dengan menggunakan film perekam khusus. Hasilnya berupa foto dengan film sebagai alat perekamnya, tapi film di sini hanya berfungsi sebagai alat perekam saja, maka hasilnya disebut citra penginderaan jauh.
Perolehan Data
Perolehan data dapat dilakukan dengan cara manual yaitu dengan interpretasi secara visual, dan dapat pula dengan cara numerik atau cara digital yaitu dengan menggunakan komputer. Foto udara pada umumnya diinterpretasi secara manual, sedangkan data hasil penginderaan jauh secara elektronik dapat diinterpretasi secara manual maupun secara numerik.
Pengguna Data
Penggunaan data (orang, badan, atau pemerintah) merupakan komponen paling penting dalam penginderaan jauh karena para penggunalah yang dapat menentukan diterima atau tidaknya hasil penginderaan jauh tersebut. Data yang dihasilkan mencakup wilayah, sumber daya alam suatu negara yang merupakan data sangat penting untuk kepentingan orang banyak, maka data ini penting dijaga penggunaannya.

JENIS CITRA

Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographyc image) atau foto udara dan citra non foto (non-photograpyc image).

1. Citra Foto
Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar yaitu:

a. Spektrum Elektromagnetik yang digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas:

1) Foto ultra violet yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultra violet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer. Cirinya tidak banyak informasi yang dapat disadap, tetapi untuk beberapa obyek dari foto ini mudah pengenalannya karena kontrasnya yang besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi; tumpahan minyak di laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, jaringan jalan aspal, batuan kapur.
2) Foto ortokromatik yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari saluran biru hingga sebagian hijau (0,4 – 0,56 mikrometer). Cirinya banyak obyek yang tampak jelas. Foto ini bermanfaat untuk studi pantai karena filmnya peka terhadap obyek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. Baik untuk survey vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras.
3) Foto pankromatik yaitu foto yang menggunakan seluruh spektrum tampak mata mulai dari warna merah hingga ungu. Kepekaan film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Cirinya pada warna obyek sama dengan kesamaan mata manusia. Baik untuk mendeteksi pencemaran air, kerusakan banjir, penyebaran air tanah dan air permukaan.
4) Foto infra merah asli (true infrared photo), yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infra merah dekat hingga panjang gelombang 0,9 – 1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Cirinya dapat mencapai bagian dalam daun, sehingga rona pada foto infra merah tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Baik untuk mendeteksi berbagai jenis tanaman termasuk tanaman yang sehat atau yang sakit.
5) Foto infra merah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian spektrum tampak pada saluran merah dan sebagian saluran hijau. Dalam foto ini obyek tidak segelap dengan film infra merah sebenarnya, sehingga dapat dibedakan dengan air.
b. Sumbu Kamera Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu (Lihat gambar 3.7):

1) Foto vertikal atau foto tegak (orto photograph) yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2) Foto condong atau foto miring (oblique photograph), yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 10 derajat atau lebih besar.Tapi bila sudut condongnya masih berkisar antara 1 – 4 derajat, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai foto vertikal.

Foto condong masih dibedakan lagi menjadi:

a) Foto agak condong (low oblique photograph), yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada foto.
b) Foto sangat condong (high oblique photograph), yaitu apabila pada foto tampak cakrawalanya.
c. Sudut liputan kamera Paine (1981) membedakan citra foto berdasarkan sudut liputan (angular coverage) atas 4 jenis. Lihat tabel 3.2.

Jenis kamera

Panjang Sudut

Jenis foto

fokus liputan

Sudut kecil (narrow angle)
Sudut normal (normal angle)
Sudut lebar (wide angle)
Sudut sangat lebar (super-wide angle)

304,8
209,5
152,4
88,8

< 60o
60 – 70o
75 – 100o
> 100o

Sudut kecil
Sudut normal/standar
Sudut lebar
Sudut sangat lebar

Tabel 3.2. Jenis foto berdasarkan sudut liputan kamera

d. Berdasarkan jenis kamera yang digunakan foto dapat dibedakan atas:

1) Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar foto.
2) Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan daerah liputan yang sama. Adapun pembuatannya ada 3 cara:

a) multi kamera atau beberapa kamera yang masing-masing diarahkan ke satu sasaran.
b) kamera multi lensa atau satu kamera dengan beberapa lensa.
c) kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna.

Foto jamak dibedakan lebih jauh lagi:

a) Foto multispektral yaitu beberapa foto untuk daerah yang sama dengan beberapa kamera, atau satu kamera dengan beberapa lensa masing-masing, lensa menggunakan band (saluran) yang berbeda yaitu biru, hijau, merah serta infra merah pantulan.
b) Foto dengan kamera ganda yaitu pemotretan di suatu daerah dengan menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda. Misal pankromatik dan infra merah.
c) Foto dengan sudut kamera ganda yaitu dengan menggunakan satu kamera vertikal di bagian tengah dan beberapa foto condong di bagian tepi.

PERBEDAAN PETA DAN CITRA PENGINDERAAN JAUH

Kemajuan teknologi dewasa ini berpengaruh besar dalam perpetaan. Banyak modul-modul permukaan bumi yang mirip sekali dengan peta yang dihasilkan dari perekaman jarak jauh yang dikenal dengan citra penginderaan jauh. Citra penginderaan jauh, antara lain foto udara, citra Landsat, citra SPOT, citra Radar dan citra IKANOS. Walaupun citra penginderaan jauh mirip dengan peta, namun pada dasarnya ada beberapa perbedaan penting yaitu.

Lihat tabel 3.3:

PETA CITRA PENGINDERAAN JARAK JAUH
1. Penyajian peta yang selektif

Kenampakan penting yang dipilih akan ditonjolkan secara jelas, sesuai dengan tujuan pemetaannya.
Informasi yang diperlukan telah disadap oleh pembuat peta, misalnya peta geologi, peta jaringan jalan.
Pengguna peta harus memiliki ketrampilan dalam membaca peta.
2. merupakan hasil dari proses generalisasi. Proses ini merupakan hal yang fundamental dalam Kartografi, misalnya pada skala 1 : 50.000, terdapat kenampakkan lebar jalan 5 m. Apabila kenampakkan jalan tersebut dianggap penting maka tetap akan digambarkan dengan pembesaran (exageration).
3. Peta secara planimetrik mempunyai ketelitian tinggi, karena sifat proyeksinya yang ortogonal. Ortogonal artinya skala di berbagai bagian pada peta tetap sama, terutama pada skala besar. Sistem proyeksi peta yang digunakan mempunyai karakteristik yang sudah diketahui, terutama kesalahan (distorsi) skalanya dan faktor kesalahan bentuk.
4. Meskipun telah dilakukan pengelompokkan data atau penggunaan simbol tertentu yang dapat membedakan obyek yang satu dengan obyek lain, masing-masing obyek masih dapat dibedakan warnanya sesuai dengan keinginan pembuat petai.
1. Penyajian citra penginderaan jauh tidak selektif (unselective). Apa saja yang dapat direkam oleh sensor akan terlihat atau tampak, ketidakselektifan ini membawa beberapa konsekuensi, antara lain:

Kenampakan-kenampakan penting sulit dilihat.
Mungkin menonjol pada kenampakan yang tidak diperlukan bagi suatu penelitian, contoh vegetasi yang tampak menonjol bagi kepentingan geologi atau lainnya.
Pengguna harus mempunyai ketrampilan dalam hal menyadap informasi yang diperlukan.
2. Citra penginderaan jauh merupakan gambar kenampakan yang tidak tergeneralisasi (not generalised). Misalnya pada skala 1 : 50.000, jalan dengan lebar 10 m digambarkan dengan ukuran 0,2 mm. Sekalipun ukurannya sangat kecil, kenampakan jalan tersebut masih terlihat pada citra penginderaan jauh. Pada peta skala 1 : 50.000, kenampakan jalan dengan lebar 10 m seharusnya berukuran 0,2 mm. Apabila jalan tersebut merupakan kenampakkan yang penting maka kenampakan jalan akan tetap ditonjolkan. Misalnya digambarkan dengan ukuran 1 mm.
3. Citra penginderaan jauh mengandung ketidaktelitian dalam hal ukuran planimetriknya, terutama foto udara yang mempunyai proyeksi sentral. Walaupun hal ini tidak mengganggu interoretasi, namun dalam memplotkan hasil interpretasi pada peta akan mengalami kesulitan. Hal ini karena skalas di berbagai bagian tidak sama. Teknik-teknik memindahkan hasil interpretasi ke dalam peta memerlukan alat yang mahal, seperti rectifier, zoom transfercope, camera, stereo, plotter analytical. Analog, dan optical photograph.
4. Warna (tone) dikandung dalam citra penginderaan jauh tergantung pada jenis spektral dan keadaan masing-masing obyek. Adakalanya refleksi rumah dan jalan yang ditangkap sensor menghasilkan rona yang sama, walaupun dapat dibedakan bentuknya. Untuk itu, perlu dilakukan pengujian kebenaran interpretasinya.

BAB III

INTERPRETASI CITRA

Menurut Este dan Simonett, 1975: Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut.
Jadi di dalam interpretasi citra, penafsir mengkaji citra dan berupaya mengenali obyek melalui tahapan kegiatan, yaitu:

  • deteksi
  • identifikasi

• analisis

Setelah mengalami tahapan tersebut, citra dapat diterjemahkan dan digunakan ke dalam berbagai kepentingan seperti dalam: geografi, geologi, lingkungan hidup dan sebagainya.

Deteksi Deteksi adalah usaha penyadapan data secara global baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Di dalam deteksi ditentukan ada tidaknya suatu obyek. Misalnya obyek berupa savana.
Identifikasi Identifikasi adalah kegiatan untuk mengenali obyek yang tergambar pada citra yang dapat dikenali berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor dengan alat stereoskop. Ada 3 ciri utama yang dapat dikenali yaitu:

1. Ciri spektral Yaitu ciri yang dihasilkan oleh interaksi antara tenaga elektromagnetik dengan obyek. Ciri spektral dinyatakan dengan rona dan warna. Rona atau tone adalah tingkat kegelapan atau kecerahan obyek pada citra. Adapun faktor yang mempengaruhi rona adalah:

a. Karakteristik obyek (permukaan kasar atau halus).
b. Bahan yang digunakan (jenis film yang digunakan).
c. Pemrosesan emulsi (diproses dengan hasil redup, setengah redup dan gelap).
d. Keadaan cuaca (cerah/mendung).
e. Letak obyek (pada lintang rendah atau tinggi).
f. Waktu pemotretan (penyinaran pada bulan Juni atau Desember).
2. Ciri spasial
Ciri spasial adalah ciri yang terkait dengan ruang yang meliputi:

a. Tekstur: adalah frekwensi perubahan rona pada citra. Biasa dinyatakan; kasar, sedang dan halus. Misalnya hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang dan semak bertekstur halus.
b. Bentuk: adalah gambar yang mudah dikenali. Contoh; Gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L dan U atau persegi panjang, Gunung api misalnya berbentuk kerucut.
c. Ukuran: adalah ciri obyek berupa jarak, luas, tinggi lereng dan volume. Ukuran obyek pada citra berupa skala. Contoh; Lapangan olah raga sepak bola d icirikan oleh bentuk (segi empat) dan ukuran yang tetap, yakni sekitar (80 – 100 m).
d. Pola: atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai banyak obyek bentukkan manusia dan beberapa obyek alamiah. Contoh; pola aliran sungai menandai struktur biologis. Pola aliran trellis menandai struktur lipatan. Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran rumah yang jaraknya seragam, dan selalu menghadap ke jalan. Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi mudah dibedakan dengan hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak tanamnya.
e. Situs: adalah letak suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya. Contoh; Permukiman pada umumnya memanjang pada pinggir beting pantai, tanggul alam atau sepanjang tepi jalan. Juga persawahan, banyak terdapat di daerah dataran rendah, dan sebagainya.
f. Bayangan: bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di daerah gelap. Bayangan juga dapat merupakan kunci pengenalan yang penting dari beberapa obyek yang justru dengan adanya bayangan menjadi lebih jelas. Contoh; lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu juga cerobong asap dan menara, tampak lebih jelas dengan adanya bayangan. Foto-foto yang sangat condong biasanya memperlihatkan bayangan obyek yang tergambar dengan jelas.
g. Asosiasi: adalah keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek lainnya. Contoh; Stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu (bercabang).
3. Ciri Temporal
Ciri temporal adalah ciri yang terkait dengan benda pada saat perekaman, misalnya; rekaman sungai musim hujan tampak cerah, sedang pada musim kemarau tampak gelap.

Penilaian atas fungsi obyek dan kaitan antar obyek dengan cara menginterpretasi dan menganalisis citra yang hasilnya berupa klasifikasi yang menuju ke arah teorisasi dan akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari penilaian tersebut. Pada tahapan ini interpretasi dilakukan oleh seorang yang sangat ahli pada bidangnya, karena hasilnya sangat tergantung pada kemampuan menafsir citra.

Menurut Prof. Dr. Sutanto, pada dasarnya interpretasi citra terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu perekaman data dari citra dan penggunaan data tersebut untuk tujuan tertentu. Perekaman data dari citra berupa pengenalan obyek dan unsur yang tergambar pada citra serta penyajiannya ke dalam bentuk tabel, grafik atau peta tematik. Urutan kegiatan dimulai dari:

menguraikan atau memisahkan obyek yang rona atau warnanya berbeda;
ditarik garis batas/delineasi bagi obyek yang rona dan warnanya sama;
setiap obyek dikenali berdasarkan karakteristik spasial dan unsur temporalnya;
obyek yang sudah dikenali, diklasifikasi sesuai dengan tujuan interpretasinya;
digambarkan ke dalam peta kerja atau peta sementara;
untuk menjaga ketelitian dan kebenarannya dilakukan pengecekan medan (lapangan);
    interpretasi akhir adalah pengkajian atas pola atau susunan keruangan (obyek); dan
      dipergunakan sesuai tujuannya.

      Untuk penelitian murni, kajiannya diarahkan pada penyusunan teori, dan analisisnya digunakan untuk penginderaan jauh, sedangkan untuk penelitian terapan, data yang diperoleh dari citra digunakan untuk analisis dalam bidang tertentu.

      Dalam menginterpretasi citra, poengenalan obyek merupakan bagian yang sangat penting, karena tanpa pengenalan identitas dan jenis obyek, maka obyek yang tergambar pada citra tidak mungkin dianalisis. Prinsip pengenalan obyek pada citra didasarkan pada penyelidikkan karakteristiknya pada citra. Karakteristik yang tergambar pada citra dan digunakan untuk mengenali obyek disebut unsur interpretasi citra (lihat pada materi identifikasi).

      POLA DAN CIRI KENAMPAKAN ALAM DARI HASIL PEMETAAN DAN INTERPRESTASI CITRA

      Di bawah ini disajikan beberapa ciri kenampakan alam dari hasil pemetaan dan interpretasi citra yang disarikan dari diktat Penginderaan Jauh oleh Prof Dr. Sutanto (tahun 1992).

      Contoh :

      1. Sungai
      Memiliki tekstur permukaan air yang seragam dengan rona yang gelap jika airnya jernih atau cerah jika keruh. Arah aliran sungai ditandai oleh bentuk sungai yang lebar pada bagian muara, pertemuan sungai memiliki sudut lancip sesuai dengan arah aliran, perpindahan meander ke arah samping dan kerah bawah (muara), ketinggian semakin rendah ke arah muara, gosong sungai meruncing ke arah hulu dan melebar ke arah muara. Lihat gambar 4.1.

      http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbr4_1.jpg

      2. Hutan Bakau
      Rona sangat hitam karena daya pantul terhadap cahaya rendah, ketinggian pohon seragam dan tumbuh pada pantai yang becek, tepi sungai atau peralihan daerah yang payau.
      3. Batu liat

      Identifikasi foto udara untuk batu liat (shale) berlapis mendatar. Lihat gambar 4.2, 4.3, 4.4:

      a. Topografi: Terdapat di daerah iklim arid tebing sungai terjal dan di daerah iklim humid lereng landai hingga sedang.
      b. Pola aliran: Pola dendritik dengan sungai membelok lemah.
      c. Tekstur: Halus dan sedang.
      d. Rona foto: Rona foto sangat bervariasi, pada umumnya lebih gelap dibandingkan batu pasir dan batu kapur.
      e. Vegetasi dan penggunaan lahan: Hanya tumbuhan gurun yang terdapat di daerah arid.

      http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbrh61a.jpg

      http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbrh61b.jpg

      http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbrh61c.jpg

      4. Sagu dan nipah
      Keduanya tergolong jenis palma, perbedaannya adalah:

      a. Sagu memiliki daun yang membentuk roset (bintang) sedang nipah tidak.
      b. Sagu memiliki rona yang gelap sedang nipah berona cerah dan seragam.
      c. Sagu tumbuh berkelompok sedang nipah tidak.
      d. Tangkai bunga sagu memantulkan cahaya putih yang berasal dari tajuk bunga sedang nipah tidak.

      Contoh konvergensi bukti.

      http://www.e-dukasi.net/mol/datafitur/modul_online/MO_133/images/gbr%20hal%2062.jpg

      Detail Kelas Penutupan dan Penggunaan Lahan

      NO. PENUTUPAN LAHAN PENGGUNAAN LAHAN
      SKALA 1 : 50.000 SKALA 1 : 25.000
      1 Perkampungan Perkampungan
      - Kampung
      Kampung jarang
      Kampung padat
      - Perumahan
      Perumahan jarang
      Perumahan padat
      - Emplasemen
      Emplasemen sementara
      Emplasemen tetap
      - Lapangan Olah raga/taman
      Komplek olah raga
      Lapangan golf
      Taman
      - Kuburan
      Kuburan/pemakaman umum
      Makam pahlawan
      Makam khusus
      2 Industri Industri
      - Pertanian
      Aneka pangan
      Aneka sandang
      - Non Pertanian
      Aneka kimia dan serat
      Aneka bahan bangunan
      Industri logam
      Industri kecil
      3 Pertambangan Pertambangan
      - Pertambangan
      Pertambangan terbuka
      Pertambangan tertutup
      4 Persawahan Persawahan
      - Irigasi 2 x padi/tahun
      2 x padi + palawija/th
      2 x padi / th
      - Irigasi 1 x padi/tahun
      1 x padi + palawija/th
      1 x padi / th
      - Tadah hujan Sawah tadah hujan
      - Pasangsurut 2x padi/tahun
      2 x padi + palawija/th
      2 x padi /th
      - Pasangsurut 1x padi/tahun
      1 x padi + palawija/ th
      1 x padi / th

      NO. PENUTUPAN LAHAN PENGGUNAAN LAHAN
      SKALA 1 : 50.000 SKALA 1 : 25.000
      5 Pertanian Pertanian lahan kering semusim
      - Tegalan / Ladang
      Menurut jenisnya
      - Sayuran
      Menurut jenisnya
      - Bunga
      Menurut jenisnya
      6 Kebun Kebun
      - Campuran
      Jenis tanaman dominan
      - Sejenis
      Jenis tanaman yang dihasilkan
      7 Perkebunan Perkebunan
      - Perkebunan besar
      Sudah menghasilkan
      Belum menghasilkan
      Tidak lagi menghasilkan
      - Perkebunan rakyat
      Sudah menghasilkan
      Belum menghasilkan
      Tidak lagi menghasilkan
      8 Padang rumput Padang
      - Padang rumput/sabana
      Padang rumput
      Sabana
      9 Semak - Alang-alang Alang-alang
      - Semak Semak
      Hutan
      10 Hutan Lebat - Hutan Lebat
      Menurut jenisnya
      11 Belukar - Belukar
      Menurut jenisnya
      12 Hutan sejenis - Hutan sejenis
      Alami
      Buatan
      Perairan Darat
      13 Kolam/tambak - Kolam air tawar - Kolam air tawar
      - Tambak - Tambak
      14 Waduk - Waduk - Waduk
      - Penggaraman - Penggaraman
      15 Danau - Danau/Situ/Telaga - Danau/Situ/Telaga

      NO. PENUTUPAN LAHAN PENGGUNAAN LAHAN
      SKALA 1 : 50.000 SKALA 1 : 25.000
      16 Rawa - Rawa - Rawa
      17 Tanah terbuka Tanah Terbuka
      - Tanah tandus - Tanah tandus
      - Tanah rusak - Tanah rusak
      - Tanah Terbuka sementara - Tanah Terbuka sementara

      About these ads
      By Ramdan Posted in GIS

      3 comments on “Pengindraan Jauh & Interpretasinya

      1. tambahin dong ulasan tentang konvergensi bukti dan contohnya sekalian selain objek yang bertajuk bintang, tajuk kerucutlah…

      Tinggalkan Balasan

      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s